Analisis Dekonstruksi Dalam Cerpen Senyum Karyamin Karya Ahmad Tohari

 


Cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari merupakan salah satu cerpen dalam Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin. Dalam cerpen tersebut mengangkat cerita dari kehidupan sehari-hari penduduk desa yang sederhana, tetapi penuh dengan ironi. Ahmad Tohari merangkai cerita dengan bahasa yang ringan namun bermakna dalam. Cerpen Senyum Karyamin mengisahkan pemuda yang selalu tersenyum. Pemuda itu bernama Karyamin yang ternyata kisahnya dalam cerpen ini sangat menampar pembaca. Pada cerpen ini terdapat pesan moral mengenai pembelajaran dalam kehidupan. Dalam cerpen ini juga terdapat bentuk-bentuk dekonstruksi yang disampaikan tokoh-tokohnya.

Teori dekonstruksi pertama kali ditemukan oleh Jacques Derrida, seorang filsuf  yang lahir pada 15 Juli 1930 di Kota El-Biar dekat Aljir, di negara Al-jazair yang saat itu masih dijajah Prancis.  Dekonstruksi merupakan sebuah  metode  untuk  membaca  sebuah teks, berdasarkan teori  ini teks tidak dianggap  berdiri sendiri dan tidak  selalu memiliki  makna  yang  pasti (Fitriana, 2019: 2).  Penggunaan  pendekatan dekonstruksi  dalam penelitian  karya sastra  akan  membuka  mata  dan  pikiran  peneliti  untuk  lebih  kritis  dalam memahami dan melihat  dari  sudut pandang yang beragam, baik  itu  dalam  teks,  konteks, maupun  koteks.  

Dalam  dekonstruksi,  bahasa  tidak  hanya dapat  dimaknai secara  mentah-mentah. Makna  dari  bahasa  yang  terlihat  dapat saja  berbalik  atau berlawanan.  Dalam hal ini, dekontsruksi  lebih  menekankan  pada  aspek-aspek yang bersifat melawan tatanan oposisi biner, makna kontradiktif, makna paradoks, makna ironi, dan sebagainya. Derrida  (via Sarup, 2008:  49) menjelaskan jika  dekonstruksi  juga berarti  metode  membaca  teks  secara  cermat  yang  membuat  landasan  teks menjadi  terlihat  tidak  konsisten  dan  terdapat  paradoks. Hal  tersebut menjelaskan  bahwa  tidak  ada  karya  sastra  yang  bersifat  mutlak  dan  memiliki struktur yang  sama. 

Terdapat langkah-langkah kerja teori dekonstruksi yang dikemukakan oleh Nasution (via Ricardo, 2020: 132), yaitu pertama menyusun oposisi biner terlebih dahulu yang terdapat dalam karya sastra yang akan dianalisis, keduamembuat pembalikan atas oposisi biner tersebut, ketiga memfungsikan unsur pembalikan tersebut sebagai entitas.Dengan demikian, dari beberapa pendapat yang telah diutarakan para ahli maka dapat disimpulkan jika dekonstruksi menunjukkan  bahwa di  dalam karya  sastra salah satunya cerpen, terdapat  makna-makna  yang  tidak  selamanya  setara, bahkan  cenderung  berlawanan  dengan  memain-mainkan  tatanan  bahasa,  penokohan,  alur  cerita, setting atau tempat, keadaan, tema, dan lain-lain. Berikut terdapat hasil analisis dekonstruksi dalam cerpen Senyum Karyamin.

  1. Bentuk Dekonstruksi Karyamin

Karyamin sebagai tokoh utama dalam cerpen Senyum Karyamin menunjukkan bentuk-bentuk dekonstruksi sebagai berikut.

a.     Dekonstruksi Benda Mati

Penyebutan benda seringkali ditujukan kepada benda–benda mati, yang tak dapat bergerak, dan lebih khusus tak dapat berkembang biak. Benda yang dimaksud memiliki sifat kontras dengan mahluk hidup sehingga disebutkan ada mahluk hidup dan ada benda mati. Secara sederhana, yang diartikan sebagai mahluk hidup adalah manusia, hewan dan tumbuhan, selain dari itu adalah benda mati (Satira, 2004: 69). Benda mati hanya dapat bergerak jika digerakkan oleh manusia atau benda lainnya. Apabila tidak ada yang menggerakkan maka benda mati akan diam. 

Benda mati memiliki ciri-ciri sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Riski (2007: 41), yaitu tidak bergerak, tidak bernafas, dan tidak membutuhkan makanan. Salah satu contoh benda mati adalah batu. Batu merupakan benda alam yang tersusun atas kumpulan mineral penyusun kerak bumi yang menyatu secara padat maupun yang berserakan. Ria (2013: 57) menjelaskan jika batu berasal dari dalam perut bumi yang awalnya berbentuk batuan cair yang sangat panas. Akibat tekanan yang sangat kuat mendesak ke luar permukaan bumi  dan  akhirnya menjadi  letusan  gunung  berapi.  Setelah  mengendap  dan  membeku menjadi  batuan, terdiri  dari  batuan beku,  batuan  sedimen dan  batuan  malihan. Setelah ratusan tahun tercampur dengan mineral-mineral lain menyebabkan variasi dari jenis-jenis batu alam, warna, ataupun corak. 

Dari penjelasan yang telah diutarakan tersebut, maka dapat disimpulkan jika sebenarnya batu tidak dapat bergerak karena merupakan benda mati. Karyamin, sebagai tokoh utama menggambarkan jika batu dapat bergerak atau melakukan suatu aktivitas. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

 

Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh, lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu dari keranjangnya (Tohari, 2013: 1).

 


Pada penyusunan oposisi biner benda mati, penulis membuat oposisi biner benda mati yang diam menjadi bergerak. Hal ini terjadi karena Karyamin sebagai tokoh utama dalam cerpen Senyum Karyamin mengalami peristiwa terjatuh dan menggelinding. Dalam peristiwa tersebut batu yang dibawa karyamin turut mengejarnya. Pada peristiwa tersebut terdapat penggambaran batu yang dapat bergerak, padahal faktanya batu itu merupakan benda mati yang diam. Hal ini sangat kontradiktif dengan batu yang kita temui sehari-hari yang tidak mungkin dapat bergerak untuk mengejar kita.

Faktor yang menyebabkan batu tersebut berkejaran dengan Karyamin karena karyamin tidak dapat menjaga keseimbangan sebab perutnya keroncongan. Karyamin tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Hingga saat dirinya berjalan menanjak, tubuhnya jatuh menggelinding, batu yang ia bawa juga ikut berjatuhan. Batu dan Karyamin seperti berkejaran karena sama-sama terjatuh dan menggelinding.  

b.    Dekonstruksi Senyum

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, senyum diartikan sebagai gerak tawa ekpresif yang tidak bersuara untuk mengungkapkan rasa senang, gembira, suka, dan sebagainya dengan mengembangkan bibir sedikit. Senyum juga dimaknai Abdurachman (2018: 2) sebagai proses dalam diri yang sangat indah, dimulai dari suatu objek lalu panca indera kita mengetahuinya. Informasi dari panca indera disalurkan ke otak, dan sesampai di otak divisualisasikan menjadi sesuatu yang lucu, unik, aneh, ataupun menarik hingga akhirnya turun ke hati sehingga di dalam hati muncul energi kebahagiaan yang sangat besar sehingga terjadi senyum. 

Hulsey (via Abdurachman, 2018: 2) juga menjelaskan bahwa senyum merupakan perubahan pada ekspresi wajah yang menyebabkan mata bersinar, sudut mulut melengkung ke atas tanpa suara, dan lebih sedikit distorsi otot yang terjadi dibandingkan saat tertawa mengungkapkan kegembiraan, kesenangan, kasih sayang, persetujuan, terkendali, dan berbagai perasaan lainnya. Selain itu, tersenyum juga merupakan isyarat keramahan. Dari penjelasan yang telah diutarakan tersebut, maka dapat disimpulkan jika orang yang tersenyum biasanya dianggap lebih bahagia, lebih hangat, lebih riang, lebih sukses, lebih rileks, dan lebih sukses. Lain halnya dengan Karyamin yang menggambarkan senyum sebagai ungkapan rasa sedih. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang (Tohari, 2013: 3).

Pada penyusunan oposisi biner senyum, penulis membuat oposisi biner senyum, yaitu senang dengan sedih. Senang merupakan oposisi biner dari sedih dan sebaliknya. Hal ini terjadi karena Karyamin sebagai tokoh utama dalam cerpen Senyum Karyamin menganggap senyum adalah sebuah ungkapan rasa sedih terhadap khayalan dan angan yang tidak mungkin dapat diraih. Padahal faktanya senyum itu merupakan tanda ketika seseorang merasa bahagia atau pun sukses. Hal ini sangat kontradiktif dengan senyum yang kita lihat sehari-hari yang jarang atau hampir tidak pernah orang lain gunakan untuk mengekspresikan rasa sedih.

Faktor yang menyebabkan Karyamin tersenyum walau keadaannya sedang terpuruk adalah karena dia merasa jika dirinya dapat merasa lebih baik. Karyamin menganggap dirinya menang dan merasa terharu karena dapat bertahan di tengah kerasnya hidup. Senyum Karyamin juga menandakan rasa syukur kepada Tuhan karena dirinya masih diberi hati yang tabah dan kekuatan untuk menahan rasa lapar dan menahan rasa sakit kepala.  

c.     Dekonstruksi Pergerakan Langit

Langit merupakan tempat matahari bergerak, bagian langit sebenarnya tidak nampak karena terletak di bawah batas penglihatan. Langit terbentang luas di atas kepala dan sama jauhnya ke semua arah karena itu menimbulkan kesan seakan-akan terbentuk seperdua bola (Padil, 2013: 198). Langit juga berarti bangunan yang kokoh, dipenuhi materi dan energi yang tidak mungkin diterobos kecuali dengan membuka pintu-pintunya (Sada, 2016: 116).  

National Geographic (2013) menjelaskan jika terdapat gerak semu langit, yaitu gerak yang kita amati dari Bumi, dimana benda-benda langit terlihat terbit di timur dan tenggelam di barat. Gerak semu ini teramati karena Bumi kita yang ber-rotasi dengan arah sebaliknya, dari barat ke timur. Langit sendiri berbentuk kabut kosmis, yaitu kumpulan gas berbentuk partikel-partikel yang sangat halus. Hal ini berarti keseluruhan materi diciptakan melalui ledakan raksasa dari satu titik tunggal dan membentuk alam semesta dengan cara pemisahan satu dari yang lain (Shihab, 2008: 108). Dari penjelasan yang telah diutarakan tersebut, maka dapat disimpulkan jika langit tidak bergerak. Lain halnya dengan Karyamin yang menggambarkan langit dapat berputar. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

 

Jadi, Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar (Tohari, 2013: 3).

 

Pada penyusunan oposisi biner pergerakan langit, penulis membuat oposisi biner pergerakan langit, yaitu diam menjadi bergerak. Hal ini terjadi karena Karyamin sebagai tokoh utama dalam cerpen Senyum Karyamin mengalami sakit kepala. Rasa sakit kepala yang dialami Karyamin seperti langit yang berputar. Padahal faktanya langit tidak bergerak dan hanya diam. Hal ini sangat kontradiktif dengan langit yang kita lihat sehari-hari, bukan langit yang bergerak tapi bumi yang berotasi.

Faktor yang menyebabkan Karyamin merasa langit berputar karena dirinya memiliki banyak pikiran dalam otaknya yang harus ia selesaikan. Pikiran-pikiran tersebut membuatnya semakin pusing karena peristiwa yang menimpanya bukanlah hal yang  sepele. Karyamin harus memikirkan istrinya yang sedang sakit, memikirkan utang bank, memikirkan utangnya dengan Saidah, dan memikirkan dirinya sendiri yang kelaparan. Hal tersebut membuat karyamin semakin pusing dan merasakan sakit kepala yang rasanya seperti langit yang berputar.

  1. Bentuk Dekonstruksi Kawan Karyamin

Kawan Karyamin juga mendekonstruksikan sesuatu. Dekonstruksi yang ditampilkan kawan Karyamin dalam cerpen Senyum Karyamin sebagai berikut.

  1. Dekonstruksi Tertawa

Gembira adalah tanda kekuatan, kekuasaan, kepuasan dan kemenangan; ekspresi kegembiraan adalah tertawa (Heatubun, 2014: 353). Tertawa juga berarti ekspresi lega setelah menghadapi keadaan ekstrem atau berbahaya. Proses tertawa dimulai pada saat ada stimulus tertentu yang menyebabkan tubuh merespons dengan sebuah gerakan tidak terkendali. Namun, pada saat yang sama mengeluarkan vokalisasi yang ritmis. 

Umumnya tertawa adalah bentuk dari kegembiraan. Tertawa adalah hasi dari lepasnya dopamin pada otak dan terutama endorfin pada sirkuit-sirkuit kesenangan pada otak. Tertawa merupakan respon dari otak dan koordinasi dari gerakan otot wajah. Tertawa dapat digambarkan dengan berseri-serinya wajah dan tampaknya gigi-gigi dari seseorang yang merasa bahagia  (Ihsan, 2014: 66). Dari penjelasan yang telah diutarakan tersebut, maka dapat disimpulkan jika orang yang tertawa biasanya dianggap merasa gembira. Lain halnya dengan Karyamin yang menggambarkan tawa sebagai ungkapan rasa sedih. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

 

Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu,  atau terhadap licinnya tanjakan (Tohari, 2013: 3). 

 

Pada penyusunan oposisi biner tertawa, penulis membuat oposisi biner tertawa, yaitu gembira dengan sedih. Gembira merupakan oposisi biner dari sedih dan sebaliknya. Hal ini terjadi karena kawan Karyamin dalam cerpen Senyum Karyamin menganggap tertawa adalah sebuah sarana untuk mengekspresikan rasa sedih. Padahal faktanya tertawa itu merupakan tanda ketika seseorang merasa gembira. Hal ini sangat kontradiktif dengan tawa yang kita lihat sehari-hari yang jarang atau hampir tidak pernah orang lain gunakan untuk mengekspresikan rasa sedih.

Faktor yang menyebabkan kawan Karyamin tertawa walau keadaannya sedang terpuruk adalah karena mereka merasa dengan tersenyum dapat mengobati dan menutupi kesedihan yang melanda mereka. Kawan Karyamin menganggap dengan tertawa mereka dapat melupakan tengkulak yang tak kunjung membayar batu, menghadapi rendahnya harga batu, dan menghadapi licinnya tanjakan. 

 

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil dari analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari menyangkal keteraturan yang sudah ada sebelumnya. Tokoh-tokoh dalam cerpen Senyum Karyamin yang telah dijelaskan tersebut mencoba menghidangkan dan mendatangkan kembali oposisi biner serta memfungsikan kembali seolah-olah sesuai dengan keteraturan yang sudah ada selama ini. Dengan demikian, dalam cerpen Senyum Karyamin menunjukkan adanya bentuk-bentuk dekonstruksi. Bentuk dekonstruksi Karyamin terdiri atas dekonstruksi benda mati, dekonstruksi senyum, dan dekonstruksi pergerakan langit. Selain itu, terdapat dekonstruksi kawan Karyamin yang terdiri atas dekonstruksi tertawa.


Sumber

Tohari, Ahmad. 2013. Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Satira, Suparno. 2004. Komposisi Materi. Jurnal Sosial dan Pembangunan. Volume 20, Nomor 1. Doi: https://doi.org/10.29313/mimbar.v20i1.127

Riski. 2007. Biologi Umum. Padang: STKIP PGRI Sumatera Barat.

Ria, M.P. 2013. Pengaruh Batu  Cadas (Batu  Trass) sebagai  Bahan  Pembentuk Beton terhadap  Kuat  Tekan  Beton. Jurnal  Inersia. Vol.  5, No.  2. Doi: https://ejournal.unib.ac.id/index.php/inersiajurnal/article/view/6734

Heatubun, Fabianus Sebastian. 2014. Gelak-Tawa sebagai Sinyal Transendensi Manusia. Jurnal Psikologi dan Religi.  Vol. 30, No. 3. Doi: https://doi.org/10.26593/mel.v30i3.1450.346-359

Shihab, M. Qurais. 2008. Lentera al-Qur’an, Kisah dan Hikmah Kehidupan. Bandung: Mizan Pustaka.

Sada, Heru Juabdin. 2016. Alam Dalam Perspektif Al-qur’an dan Hadits. Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 7, No. 2. Doi: https://media.neliti.com/media/publications/58071-ID-alam-semesta-dalam-persepektif-al-quran.pdf

Fitriana, Ajidarma Ephrilia Noor. 2019. Dekonstruksi dalam Cerpen Monolog "Aku, Pembunuh Munir" Karya Seno Gumira Ajidarma. Jurnal Kajian Sastra.  Vol. 8, No. 1. Doi: https://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/jentera/article/view/719/774

Sarup, Madan. 2008. Panduan Pengantar untuk Memahami Postrukturalisme & Posmodernisme (Terjemahan  Medhy Aginta  Hidayat).Yogyakarta:  Jalasu-tra.

Ricardo, David Rici. 2020. Dekonstruksi dalam Novel Dadaisme. Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan. Vol. 8, No. 1. Doi: https://doi.org/10.26499/ttbng.v8i1.201 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Setting dalam Membangun Atmosfer pada Novel

Gaya Penulisan dan Bahasa dalam Novel: Keunikan dan Pengaruhnya

Membangun Ketegangan dalam Novel Anda: Tip dan Trik Agar Pembaca Tetap Terpikat