10 Puisi Taufik Ismail Bertemakan Perjuangan
Puisi-puisi Taufik Ismail merupakan sebuah keajaiban kata-kata yang mengalir dengan keindahan dan kekuatan. Melalui bait-bait puisinya, Taufik mampu membangun dunia baru yang penuh dengan makna, menggugah emosi, dan menghidupkan imajinasi. Setiap kata yang dipilihnya memiliki kekuatan untuk membangun lanskap puisi yang menghentak dan menggetarkan jiwa pembacanya. Puisi-puisi Taufik Ismail adalah sebuah perjalanan melintasi pikiran, perasaan, dan realitas yang menghadirkan keindahan dalam kehidupan sehari-hari.
Taufik Ismail adalah seorang penyair, sastrawan, dan budayawan terkenal asal Indonesia. Dia lahir pada tanggal 25 Oktober 1935 di Bukittinggi, Sumatra Barat. Taufik dikenal sebagai salah satu ikon sastra Indonesia pada era 1960-an dan 1970-an. Sebagai seorang penyair, Taufik Ismail dikenal dengan puisi-puisi yang penuh semangat, kritis, dan berisikan pesan sosial. Karyanya sering kali menyoroti isu-isu politik, sosial, dan budaya yang relevan pada masanya.
Taufik Ismail tetap aktif dalam dunia sastra hingga hari ini. Puisi-puisinya masih dibaca dan diapresiasi oleh banyak orang. Dia telah memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan sastra Indonesia dan menjadi salah satu ikon dalam dunia sastra Indonesia modern. Mari simak bersama-sama mengenai beberapa koleksi Puisi Ciptaan Taufik Ismail yang bertemakan tentang perjuangan melawan pemerintah yang berkhianat, untuk para demonstran, dan sebagainya. Berikut, beberapa diantaranya :
Seorang Tukang Rambutan Pada Istrinya
Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali,
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu, Anak-anak sekolah,
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!..
Sampai bensin juga turun harganya,
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula,
Mereka kehausan datam panas bukan main,
Terbakar muka di atas truk terbuka,
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu…
Biarlah sepuluh ikat juga,
Memang sudah rezeki mereka,
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan,
Seperti anak-anak kecil,
“Hidup tukang rambutan!” Hidup tukang rambutani,
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya…
Dan ada yang turun dari truk, bu,
Mengejar dan menyalami saya,
Hidup pak rambutan sorak mereka,
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar,
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka,
Terima kasih, pak, terima kasih!…
Bapak setuju karni, bukan?,
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara,
Doakan perjuangan kami, pak,
Mereka naik truk kembali,
Masih meneriakkan terima kasih mereka,
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”,
Saya tersedu, bu. Saya tersedu…
Belum pernah seumur hidup,
Orang berterima-kasih begitu jujurnya,
Pada orang kecil seperti kita….
Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini
Tidak ada pilihan lain,
Kita harus,
Berjalan terus,
Karena berhenti atau mundur,
Berarti hancur…
Apakah akan kita jual keyakinan kita,
Dalam pengabdian tanpa harga,
Akan maukah kita duduk satu meja,
Dengan para pembunuh tahun yang lalu,
Dalam setiap kalimat yang berakhiran,
Duli Tuanku ?…
Tidak ada lagi pilihan lain,
Kita harus,
Berjalan terus,
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan,
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh…
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara,
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama,
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka,
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan,
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara…
Tidak ada lagi pilihan lain,
Kita harus,
Berjalan terus…
Benteng
Sesudah siang panas yang meletihkan,
Sehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balas,
Dan kita kembali ke karnpus ini berlindung,
Bersandar dan berbaring, ada yang merenung…
Di lantai bungkus nasi bertebaran,
Dari para dermawan tidak dikenal,
Kulit duku dan pecahan kulit rambutan,
Lewatlah di samping Kontingen Bandung…
Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana,
Semuanya kumal, semuanya tak bicara,
Tapi kita tldak akan terpatahkan,
Oleh seribu senjata dari seribu tiran,
Tak sempat lagi kita pikirkan…
Keperluan-keperluan kecil seharian,
Studi, kamar-tumpangan dan percintaan,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam,
Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam…
Kopi Menyiram Hutan
Tiga juta hektar,
Halaman surat kabar,
Telah dirayapi api,
Terbit pagi ini,
Panjang empat jari,
Dua kolom tegaklurus,
Dibongkar dari pik-ap…
Subuh dari percetakan,
Ditumpuk atas jalan,
Dibereskan agen koran,
Sebelum matahari dimunculkan,
Dilempar ke pekarangan,
Dipungut oleh pelayan,
Ditaruh di meja makan..
Ditengok secara sambilan,
Dasi tengah diluruskan,
Rambut isteri penataan,
Empat anak bersliweran,
Pagi penuh kesibukan,
Selai di tangan,
Roti dalam panggangan…
Ketika tangan bersilangan,
Kopi tumpah di bacaan,
Menyiram tiga juta hektar koran,
Dua kolom kepanjangan,
Api padam menutup hutan…
Koran basah dilipat empat,
Keranjang plastik anyaman,
Tempat dia dibuangkan,
Tepat pagi itu,
Jam setengah delapan…
Bayi Lahir Bulan Mei 1998
Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga,
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba,
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya,
Langsung dia memikul hutang di bahunya,
Rupiah sepuluh juta…
Kalau dia jadi petani di desa,
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota,
Kalau dia jadi orang kota,
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya…
Kalau dia bayar pajak,
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing,
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing,
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga…
Mulutmu belum selesai bicara,
Kau pasti dikencinginya…
Syair Empat Kartu di Tangan
Ini bicara blak-blakan saja, bang,
Buka kartu tampak tampang,
Sehingga semua jelas membayang,
Monoloyalitas kami,
sebenarnya pada uang…
Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara,
Koyak tampak terkubak semua,
Sehingga buat apa basi dan basa…
Sila kami,
Keuangan Yang Maha Esa,
Jangan sungkan buat apa yah-payah,
Analisa psikis toh cuma kwasi ilmiah,
Tak usahlah sah-susah…
Ideologiku begitu jelas,
ideologi rupiah,
Begini kawan, bila dadaku jalani pembedahan,
Setiap jeroan berjajar kelihatan,
Sehingga jelas sebagai keseluruhan…
Asas tunggalku,
memang keserakahan.
Takut 66, Takut 98
Mahasiswa takut pada dosen,
Dosen takut pada dekan,
Dekan takut pada rektor,
Rektor takut pada menteri,
Menteri takut pada presiden,
Presiden takut pada mahasiswa,
takut “66, takut “98…
Oda Bagi Seorang Sopir Truk
Sebuah truk lama,,
Dengan supir bersahaja,
Telah beruban dan agak bungkuk,
Di atas stimya tertidur,
Di tepi jalan yang sepi…
Di suatu senja musim ini,
Dalam tidumya ia bermimpi,
Jalanan telah rata. Ditempuhnya,
Dengan sebuah truk baru,
Dengan klakson yang bisa berlagu…
Dan di sepanjang jalanan,
Beribu anak-anak demonstran,
Tersenyum padanya, mengelu-elukan,
Hiduplah bapak supir yang tua,
Yang dulu berjuang bersama kami,
Selama demonstrasi…
Di tepi sebuah jalan di ibukota,
Ketika udara panas, di suatu senja,
Seorang supir lusuh dengan truk yang tua,
Duduk sendiri terkantuk-kantuk Semakin letih, semakin bungkuk.
Dari Catatan Seorang Demonstran
Inilah peperangan,
Tanpa jenderal, tanpa senapan,
Pada hari-hari yang mendung,
Bahkan tanpa harapan…
Di sinilah keberanian diuji,
Kebenaran dicoba dihancurkan,
Pada hari-hari berkabung,
Di depan menghadang ribuan lawan…
Pengkhianatan Itu Terjadi Pada Tanggal
Pengkhianatan itu telah terjadi,
Pengkhlanatan itu terjadi pada tanggal 9 Maret,
Ada manager-manager politik,
Ada despot yang lalim,
Ada ruang sidang dalam istana,
Ada hulubalang,
Serta senjata-senjata…
Senjata imajiner telah dibidikkan ke kepala mereka tapi la la la,
di sana tak ada kepala,
tapi hu hu hu,
tak ada kepala di atas bahu,
Adalah tempolong ludah,
Sipoa kantor dagang,
Keranjang sampah,
Melayang layang…
Ada pernyataan otomatik,
Ada penjara dan maut imajiner,
Generasi yang kocak,
Usahawan-usahawan politik yang kocak,
Ruang sidang dalam istana,
La la la,
tempolong ludah tak berkepala,
Hu hu hu,
keranjang sampah di atas bahu,
Angin menerbangkan kertas-kertas statemen Terbang,
Melayang layang…
Malam Sabtu
Berjagalah terus,
Segala kemungkinan bisa terjadi,
Malam ini,
Maukah kita dikutuk anak-cucu,
Menjelang akhir abad ini,
Karena kita kini berserah diri?…
Tidak. Tidak bisa,
Tujuh korban telah jatuh. Dibunuh,
Ada pula mayat adik-adik kita yang dicuri,
Dipaksa untuk tidak dimakamkan semestinya,
Apakah kita hanya akan bernafas panjang Dan seperti biasa: sabar mengurut dada?…
Tidak. Tidak bisa,
Dengarkan. Dengarkanlah di luar itu,
Suara doa berjuta-juta,
Rakyat yang resah dan menanti,
Mereka telah menanti lama sekali,
Menderita dalam nyeri,
Mereka sedang berdoa malam ini,
Dengar. Dengarlah hati-hati….

Komentar
Posting Komentar